Sudah menjadi suatu tradisi bagi Universitas Darussalam Gontor (UNIDA GONTOR) dalam mengutus delegasi untuk berbagai kegiatan perlombaan, khususnya dalam kompetisi bahasa Arab, kali ini pada acara Gebyar Bahasa Arab 2016 (GBA) yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Bahasa Arab IAIN Syekh Nurjati Cirebon berlangsung selama 5 hari sejak tanggal 04 – 08 April 2016.
Dengan mengirimkan 15 peserta dari berbagai cabang perlombaan yang meliputi: Insya’ Araby, Tafsir Puisi, Debat Bahasa Arab, Puisi, Media Pembelajaran Bahasa Arab, Pidato, Khot Kontemporer, Musabaqah Qira’atul Kutub (MQK) dan Pop Arab. Uniknya, tidaklah dari keseluruhan peserta berasal dari Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) melainkan berasal dari berbagai macam program studi.
Kegiatan lomba yang berjalan selama 5 hari ini ternyata membuahkan hasil yang baik, berkat usaha yang dikerahkan serta senantiasa doa tidak putus-putus. Delegasi UNIDA Gontor meraih kemenangan di antaranya pada cabang lomba : Insya’ (Juara 1), Puisi (Juara 2), Khot Kontemporer (Juara 3), Pidato (Juara 1), Media Pembelajaran Bahasa Arab (Juara 1), Pop Arab (Juara 1). Kemenangan ini yang mengantarkan UNIDA Gontor meraih JUARA UMUM pada acara Gebyar Bahasa Arab 2016 di IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
Semoga dengan hasil yang diraih tersebut, tidaklah membuat mahasiswa UNIDA Gontor merasa puas diri melainkan akan senantiasa membuat suatu kemajuan dari berbagai lini baik yang berhubungan dengan kegiatan akademik maupun non-akademik. Sehingga benar-benar dapat menjadi unsur yang mewujudkan “Universitas Islam yang bermutu dan berkualitas”.    
Sumber : http://unida.gontor.ac.id/2016/04/13/delegasi-unida-gontor-menjadi-juara-umum-pada-perlombaan-gebyar-bahasa-arab/

Ribuan warga Lumajang ikut Nunsatara Mengaji di Ponpes Bustanul Ulum Desa Krai Kecamatan Yosowilangun.

Thoriqul Haq Ketua Komisi C DPRD Jatim, Samsul Huda Ketua PC NU Lumajang, Anang A. Saifuddin ketua DPC PKB Lumajang dan sejumlah tokoh masyarakat hadir dalam kesempatan tersebut."Ini kebanggaan bagi kami, Bustanul Ulum jadi tempat Nusantara Mengaji, suata kehormatan dan kami mengucapkan terima kasih atas nama keluarga besar Bustanul Ulum," ujar KH. Samhan Baqhis, pengasuh PP Bustanul Ulum saat Sambutan, Minggu (08/05/2016).


Samsul Huda Ketua PC NU Lumajang dalamsambutannya memberikan apresiasi kepada PKB yang menjadi inisiator Nusantara Mengaji. Kegiatan khotmil Al-Qur'an yang dikemas dengan Nusantara Mengaji sejalan dengan program-program PC NU Lumajang."Kami memberikan apresiasi yang besar kepada PKB yang menjadi inisiator Nunsatara Mengaji untuk mendo'akan bangsa dan negara agar tetap jaya," terang Samsul Huda.Thoriqul Haq, menyatakan kegiatan Nusantara Mengaji digelar serentak seluruh Indonesia. 300 ribu orang mengaji ternyata melebihi target sampai 325 ribu orang, karena banyak sambutan antusias dari kader PKB, kader NU dan para simpatisan."Jumlah Nunsatara Mengaji melebihi target dari 300 ribu sampai 325 ribu. Ini adalah kegiatan untuk mendo'akan bangsa dan negera agar menjadi bangsa yang baldatun toyyibun warobbun ghofur," papar pria yang akrab disapa Cak Thoriq Cagceg itu.

Pesantren Tebuireng Jombang kerap kali menjadi tujuan kunjungan beberapa lembaga pendidikan dari penjuru Indonesia. Sabtu malam (07/05/2016) giliran Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Cilacap mengunjungi sekaligus menimba ilmu di pesantren yang diasuh KH. Salahuddin Wahid itu. Terdiri dari 175 siswa-siswi kelas dua beserta staf pengajar, rombongan tersebut tiba sekitar pukul 20.15 WIB. mereka langsung disambut dengan luar biasa oleh Kepala Pondok, H. Ainur Rofiq dan Kepala madrasah Mu’allimin, Ustdaz su’udi. Pertemuan tersebut dilaksanakan di gedung KH. M. Yusuf Hasyim lantai 3.
Drs. Faiz Al Hamidy, guru Bahasa Arab yang mewakili rombongan menuturkan bahwa Madrasah Aliyah Negeri Cilacap  merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang pertama kali berdiri di Cilacap dengan empat jurusan, IPA, IPS, Pengembangan Bahasa dan Keagamaan.
Dalam kesempatan ini, Mudir bidang Kepondokan, Bapak H. Lukman Hakim memberikan sambutan. “kalian harus mampu menjaga dan memberikan akhlaq yang baik terhadap masyarakat. Bagaimana tidak, kalian merupakan seorang pelajar yang menimba ilmu di Madrasah Aliyah yang notabene mempelajari pendidikan agama,” pesan beliau kepada siswa-siswi MAN Cilacap. Beliau juga, memberikan doa semoga apa yang telah didapatkan menjadi ilmu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat.
Salah satu siswi menanyakan tentang sistem pesantren dalam mengkaji tafsir. H. Ainur Rofiq menuturkan bahwa santri tebuireng dalam belajar tafsir memakai kitab tafsir ayatil ahkam, khususnya di Madrasah Mua’llimin dan Madrasah Aliyah.  Kemudian setiap malam kamis setiap santri wajib untuk mengikuti pengajian tafsir Jalalain di serambi masjid yang diampu oleh KH. Musta’in Syafi’i.
“Acara ini adalah agenda tahunan yang diadakan Madrasah Aliyah Negeri Cilacap. Sebelum ke Tebuireng, kami mengunjungi beberapa tempat wisata alam, yakni dataran tinggi bromo dan kota batu Malang,” ucap Bapak Aan Anshori (33), salah satu guru. Beliau merasa senang dapat menimba ilmu dan bersilaturahmi ke Tebuireng walaupun hanya 1,5 jam. “Semoga anak-anak dapat termotivasi dalam belajar mendalami keagamaan,” tambahnya.
Sebelum acara diakhiri, ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ustadz Su’udi. Setelah mengunjungi Pesantren Tebuireng dan berziaroh ke makam Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdurrahman Wahid, dan Masyayikh tebuireng lainnya, rombongan melanjutkan perjalanan pulang menuju Kota Cilacap.
Sumber : 

Pertanyaan semacam ini sangatlah familiar di telinga masyarakat kita akhir-akhir ini. Haruskah seorang wanita menjalani wanita karir atau cukupkah seorang istri itu melaksanakan tugas utamanya dalam rumah tangganya sebagai penjaga rumah suami, penjaga harta suami, pendidik anak-anak serta merawatnya, dan menyiapkan kebutuhan suaminya baik di rumah, ketika akan berangkat atau sepulang suaminya dari kerja.
Sesungguhnya Allah menciptakan manusia yang terdiri dari kalangan wanita dan pria. Dan masing-masing Allah menciptakan tugas-tugas yang sesuai dengan kepribadiannya. Maka di dalam Al-Qur’an Allah mensifatkan para wanita selalu berada di dalam rumah. Yaitu firman Allah yang artinya:
“Dan hendaknya kalian berdiam dalam rumah dan janganlah kalian keluar dengan menampakkan aurotmu sebagaimana wanita pada zaman jahiliyah dahulu dan laksanakanlah sholat”.
Maka jika dicermati dari ayat tersebut wanita itu identik dengan pekerjaan rumah. Dan itulah kodrat para wanita. Jangan anggap bahwasanya pekerjaan rumah itu adalah pekerjaan yang sangat enteng. Tentunya itu adalah pekerjaan yang sangat berat. Mulai dari tugas membersihkan, merapikan dan merawat rumah serta segala perkakasnya. Lebih-lebih di dalam mendidik anak-anak, yang semuanya itu dibebankan dan menjadi tugas bagi seorang istri atau seorang ibu. Sehingga pantas jika para ulama’ mengatakan:
“Ibu itu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya”.
Belum lagi seorang istri harus sibuk menyiapkan segala sesuatu yang menjadi kebutuhan suami ketika dia akan berangkat kerja. Begitu pula dia akan sibuk ketika menyambut suami tatkala pulang kerja. Dari mulai menyiapkan teh atau kopinya, lalu makanannya, sampai urusan-urusan yang berkaitan dengan hubungan suami istri yang semuanya itu membutuhkan kepada persiapan dan perencanaan.
Disinilah dapat kita bayangkan jika seumpama seorang istri kemudian juga sibuk bekerja di luar rumah. Maka siapakah yang akan merapikan rumahnya? Siapakah yang akan mendidik anak-anaknya? Dan siapa yang akan menyiapkan segala sesuatu yang menjadi kebutuhan suami sebelum dan sesudah pulang kerja?. Seharusnya pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus dijawab oleh mereka yang menganut bahwasanya wanita bebas untuk berkarir.
Maka di sini saya katakan bahwasanya agama islam sama sekali tidak melarang para wanita untuk bekerja atau berkarir di luar rumah, asalkan dia benar-benar bisa melaksanakan pekerjaan rumahnya sebagai seorang istri terhadap suaminya, sebagai seorang ibu terhadap anak-anaknya dan juga sebagai penjaga harta dan rumah dari pada suaminya. Karena itulah fungsi dari pada istri yang sesungguhnya.
Kemudian, marilah sama-sama kita renungkan, bagaimana kiranya ketika seorang istri baru pulang kerja bertepatan dengan pulangnya suami dari kerjanya. Disaat itulah sang suami meminta seorang istri membuatkan teh atau kopi, sedangkan si istri pada waktu itu dalam keadaan keletihan dan lelah karena baru pulang dari kerja. Sehingga jika seorang istri kemudian menolak membuatkan teh atau kopi untuk suaminya, hal itu akan menimbulkan konflik atau sebuah perselisihan antara keduanya. Itu baru contoh yang kecil, lalu bagaimana dengan yang lainnya, misalnya seorang suami meminta kepada istrinya untuk berhubungan intim disaat istri kelelahan karena baru pulang dari kerja dengan alasan itu istri menolaknya, akibatnya istri akan mendapatkan dosa besar. Sementara suami tidak akan terlampiaskan keinginannya. Dan itu menyebabkan suatu bahaya besar yang berhubungan dengan naluri kelelakiannya. Oleh karena itu, di sini dijelaskan bahwasanya agama islam tidak melarang seorang istri bekerja atau berkarir di luar rumah, asalkan dia tidak meninggalkan kewajibannya yaitu tugas-tugasnya sebagai sebagai istri terhadap suaminya dan sebagai seorang ibu kepada anak-anaknya. Jika dia dapat melakukannya maka hal itu tidak dilarang oleh agama islam.
Kesimpulannya seorang istri tidak dilarang untuk menjadi wanita karir atau berkarir di luar rumah asalkan memenuhi syarat-syarat dibawah ini:
1. Dia telah mendapatkan izin dari suami jika telah bersuami, atau dari walinya jika belum bersuami dan harom hukumnya bagi wanita jika tidak mendapatkan restu atau izin dari suami atau walinya.
2. Hendaknya pekerjaan yang dia kerjakan merupakan sebuah pekerjaan yang cocok dengan kewanitaannya.
3. Pekerjaannya tidak menghalanginya untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri terhadap suaminya dan sebagai seorang ibu terhadap anak-anaknya. Maka jika pekerjaan di luar rumah menghalangi atau akan menyebabkan kelalaian atau keteledoran terhadap dua pekerjaan tersebut. Hukumnya dia telah berdosa dengan karirnya itu.
4. Pekerjaan yang dilaksanakannya tidak terjadi campur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom dan harom hukumnya seorang wanita yang berkarir yang menyebabkan dia harus bercampur dengan laki-laki yang bukan mahrom. Karena hal itu bertentangan dengan hukum islam.
5. Pekerjaan tersebut tidak menyebabkannya melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama. Misalnya dengan menampakkan auratnya dengan memakai pakaian-pakaian yang tidak islami, atau tidak memakai kerudung, atau meninggalkan sholat 5 waktu dan jika ini terjadi, maka harom bagi wanita tersebut berkarir di luar rumah.
6. Pekerjaan yang dilakukan oleh wanita karir itu telah diiringi dengan ketaqwaan kepada Allah sehingga yang mendorongnya untuk bekerja serta bagaimana dia bekerja dan dalam lingkungan apa, semua berdasarkan pada syariat agama islam yang mengaturnya. Adapun jika terdapat seorang wanita yang kurang ketaqwaannya terhadap Allah jika dia menjadi wanita karir, dia akan meninggalkan dan menanggalkan syariat islam berkaitan dengan apapun maka harom baginya berkarir dalam keadaan semacam itu.
Perlu diketahui, bahwasanya syarat-syarat tersebut di atas disyariatkan ketika wanita akan berkarir, tujuannya adalah untuk membatasi para wanita melaksanakan sesuatu yang bukan kewajibannya. Karena hukum asalnya seorang wanita bekerja di luar rumah adalah tidak wajib akan tetapi hanya mubah. Karena kewajiban dalam mencari nafkah dalam islam adalah kewajiban dari seorang suami. Dan ini merupakan apresiasi dan kemuliaan yang diberikan oleh islam kepada para wanita dengan mendudukkan para wanita hanya di rumah bagaikan para ratu dalam singgasananya dan hanya mengurusi anak-anaknya. Sedangkan hal yang berkaitan dengan keperluannya menjadi tanggungan suami dan bukan menjadi tanggung jawab bersama. Itulah kebijakan agama islam yang sangat bijak kepada para pemeluknya. Adapun contoh-contoh pekerjaan yang pantas dilakukan para wanita di luar rumah adalah sebagai berikut:
1. Menjadi dokter yang berkaitan dengan kewanitaan. Seperti dokter rahim atau bidan, dokter spesialis kandungan dan kemaluan, dokter spesialis penyakit dalam dan sebagainya yang seharusnya ini banyak dari kalangan wanita. Yang pada zaman ini justru lebih banyak menjadi profesi dari kalangan laki-laki.
2. Juru dakwah untuk berseru menuju jalan Allah dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar dengan menjadi seorang ustadzah dan da’iyah. Dan ini juga sedikit kita temukan pada zaman ini. Yang lebih banyak adalah para ustadz dan para da’saw. sedangkan para ustadzah dan para da’iyah jarang sekali.
3. Seorang pengajar yang khusus untuk murid-murid perempuan.
4. Pekerjaan-pekerjaan sosial yang membantu masyarakat umum, baik ketika tertimpa musibah bencana yang komplek ataupun yang lainnya seperti dapur umum ataupun yang berkaitan dengan perawatan, dan sebagainya.
5. Perkantoran yang khusus untuk perempuan.
6. Salon yang khusus untuk wanita.
7. Semua pekerjaan yang tidak terkait dengan laki-laki atau yang khusus untuk perempuan.
Yang semacam ini contoh-contoh pekerjaan-pekerjaan dari para wanita di luar rumah. Adapun jika karirnya dilakukan dalam rumah maka tidak terbatas. Boleh dia membantu suaminya, atau berdikari sendiri di dalam rumahnya dengan tanpa batasan-batasan berkaitan dengan pekerjaan apapun.


Penulis adalah Al-Habib Segaf Baharun, M.HI (Rektor  INI DALWA, Bangil, Pasuruan)
Sumber : http://alhabibsegafbaharun.com/haruskah-seorang-istri-menjadi-wanita-karir/


Untuk mengisi hari libur ditengah jeda ikhtibar, Pengurus Ma’had dan Institut Agama Islam Darullughah Wadda’wah mengadakan acara bertajuk “Pekan Ilmiah Mahasiswa Santri” selama 4 hari, yang bertujuan selain untuk mengisi waktu luang juga untuk menambah pengetahuan serta wawasan para Santri dan Mahasiswa.


Alhamdulillah INSUD Lamongan telah selesai mengadakan acara Festival Bahasa Arab INSUD Lamongan 2016, acara ini dilaksanakan oleh Prodi Pendidikan Bahasa Arab yang diikuti oleh SMA/MA sederajat se-Kabupaten Lamongan, Gresik, Tuban dan Bojonegoro. Berikut nama-nama yang menjuarai festival tersebut :
  • Juara Khithobah:
  1. Ahmad Rifa"i (MAN Tuban)
  2. Zahro Nur Amalia (MA Al-Fatimah Bojonegoro)
  3. Chuzaimatus Sa"adah (PP. Matholiul Anwar Lamongan)
  • Juara Imathoh
  1. Abid Amrullah (PP. Tanwirul Qulub Lamongan)
  2. Nur Aniza (MA Ihyaul Ulum Gresik)
  3. Anita Putri Utami (MA Darul Ma"arif Lamongan)
  • Juara Taqdhimul Qisshoh :
  1. Ardis Ardianto Siswo (PP. Matholiul Anwar Lamongan)
  2. Islamiatur Rohmah (MA Matholiul Anwar Lamongan)
  3. Nisaul Mubarokah (MA Al Azhar Gresik)
Selamat kepada para peserta yang mendapatkan predikat peserta terbaik. semoga ilmu anda manfaat dan barokah. Amin...

Sumber : http://insud.ac.id/berita-289-pengumuman-hasil-festival-bahasa-arab-insud-lamongan-tahun-2016.html

Pada 29 April hingga 1 Mei yang lalu, telah diadakan Muktamar Halaqoh BEM Pesantren se-Indonesia di Universitas Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Dihadiri oleh 34 BEM perguruan Tinggi Pesantren se-Indonesia, agenda muktamar yang dipanitiai tim dari Dewan Mahasiswa UNIDA Gontor berjalan dengan lancar dan sukses. 
Dari BEM Perguruan Tinggi Pesantren se-Indonesia tercatat dua dari Kalimantan, empat dari Jawa Tengah, dua dari Jawa Barat, dan satu dari Sumbawa.  Ini merupakan lompatan yang besar dari Halaqoh BEM Pesantren meskipun masih berusia amat belia. 
 
Pada Muktamar kali ini Halaqoh BEM Pesantren memperluas jangkauan dan taraf dari yang sebelumnya regional menjadi nasional. 
 
Rangkaian acara dibuka dengan sambutan dari Rektor Universitas Darussalam Gontor Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi dan penyampaian pesan dan nasehat dari Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Hasan Abdullah Sahal berjudul “Mahasiswa Santri sebagai Ujung Tombak Peradaban Islam”. 
 
 
Selain diisi dengan sidang-sidang yang terlaksana dengan sangat khidmat khas santri, rangkaian acara diisi pula dengan seminar pemikiran Islam oleh Adian Husaini berjudul “Tantangan Pemikiran Islam”, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi berjudul “Membangun Peradaban Islam”, dan Dr. Dihyatun Masqon berjudul “Mengenal Gontor”. 
 
Forum Sharing dimana wakil dari lima BEM Perguruan Tinggi Pesantren mempresentasikan kondisi dan kegiatan kampusnya masing-masing di depan seluruh peserta dan juga mahasiswa UNIDA Gontor diletakkan di pertengahan muktamar. Hal ini ditujukan untuk menstimulus diskusi mengenai tema yang sama antarpeserta Muktamar sehingga bisa saling mengembangkan kampusnya masing-masing.  
 
Selepas shubuh sepanjang hari-hari Muktamar, Dr. Kholid Muslih mengisi kajian kecil bagi para peserta ikhwan, sementara kajian bagi peserta akhwat diisi oleh Ustadzah Neneng Uswatun Hasanah dan Dr. Rosyda Diana. 
 
Hari terakhir Muktamar diisi dengan kunjungan ke area Pondok Modern Darussalam Gontor dan ziarah ke Pondok Tegalsari Ponorogo. Acarapun ditutup dengan pembacaan 11 rekomendasi Muktamar Halaqoh BEM Pesantren se-Indonesia dan sambutan dari Wakil Rektor Dua Universitas Darussalam Gontor, Dr. Setiawan bin Lahuri.
11 Butir rekomendasi Muktamar Halaqoh BEM Pesantren se-Indonesia 2016 ialah sebagai berikut; (1) Bertekad menghidupkan dan mengutamakan pengembangan diri dengan Ilmu dan Akhlaq, (2) Mendorong pemerintah untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap Pendidikan yang berbasis akhlaqul karimah terutama Pendidikan pesantren. (3) Siap mengabdikan diri sepenuhnya bagi agama, nusa dan bangsa (Hubbul Waton  Minal Iman), (4) Menolak setiap pemimpin yang dzalim, arogan, serta tidak mengakomodir kepentingan ummat Islam, dan (5) Siap menjadi garda terdepan Indonesia dalam memanfaatkan bonus demografi Indonesia.
 
Selanjutnya,  (6) Mendukung upaya pemerintah dalam menanggulangi penyalahgunaan NARKOTIKA dan peredarannya, (7) Menolak faham-faham yang tidak sesuai dengan al-Qur’an dan al-Hadist, (8) Menolak LGBT beserta seluruh usaha dalam mengkampanyekannya, (9) Menolak faham komunisme dan seluruh usaha untuk menghidupkannya kembali di Indonesia, (10) Menolak usaha memecah belah umat Islam dalam bentuk apapun, (11) Islam bukan teroris, teroris bukan Islam.
Seusai acara, disepakati pula penyelenggaraan Silaturami Nasional pada beberapa bulan mendatang yang rencananya akan bertempat di STIU Al-Hikmah Darul Qur’an Bogor. Para peserta pun bersalaman wujud persahabatan yang terpupuk amat erat serta semangat bersama meninggikan nilai-nilai pesantren.
 
Rep: Usamah Rahman
Sumber :  http://www.suara-islam.com/read/index/18099/Nafas-Baru-Kaum-Santri