Ketika kita melihat di sekitar kita, betapa menurunnya intergritas kaum muda di era ini. Mengapa tidak? Faktanya, kaum muda yang seharusnya menjadi pelopor kebanggaan bangsa malah menjadi sebaliknya telah memalukan bangsa yang berstatus sebagai negara islam. Dan ini semakin meningkat hari demi hari.




“Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut MUSLIM. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia” (Catatan Harian 9 Oktober 1969)